Di Antara Yang Pergi Dan Yang Datang

Kali ini aku ingin menulis sebuah catatan yang berada di antara yang pergi dan yang datang. Aku sebenarnya tidak tahu mau kasih judul apa, aku bingung yang tepat itu seperti apa, jadi aku asal memberikan judul seperti ini aja. Ya, intinya ialah hari ini artikelku sudah ada dan dapat untuk dipublikasikan di blog ini.

Di Antara Yang Pergi Dan Yang Datang – Jakarta, 26 Mei 2018

Sama seperti yang sudah-sudah, “Ada yang pergi, pasti akan ada yang datang”, itulah hidup dan seperti itulah kehidupan. Itulah hukum alam yang tak akan ada seorangpun yang mampu untuk menghilangkan hukum tersebut dan itulah yang terjadi dalam kehidupan ini.

“Terkadang kita harus bisa melepaskan sesuatu yang lama agar bisa mendapatkan sesuatu yang baru” – Catatan untuk saat ini

Ya, seperti itulah cerita yang terjadi di dalam kehidupan ini. Terkadang kita harus bisa melupakan sesuatu yang telah terlewati, agar kita bisa mendapatkan sesuatu yang akan kita temui. Sebab jika tidak, maka selamanya kita hanya akan terpaku pada apa yang telah terlewati dan kita juga mungkin tidak akan bisa mendapatkan apa yang telah dipersiapkan untuk kita. Bukan karena kita tak layak mendapatkan sesuatu itu sendiri, akan tetapi lebih kearah “kita belum melepaskan yang lama”.

“Waktu dapat membantumu melupakan segalanya”.

Itulah kutipan yang pernah ku dengar atau kubaca dari sebuah film, aku tidak tahu film apa itu, tapi itulah kutipan mereka yang terkadang jika dipikir-pikir, semuanya benar adanya. Waktu dapat membantu kita untuk melupakan segalanya.

Beberapa hari yang lalu, ditulisan sebelumnya, aku menuliskan sebuah artikel tentang Hasil Akhir – Tes Masuk Kerja, dimana jika ditarik kesimpulan dari hasil tersebut, maka aku telah dipastikan 100% aku tidak bakalan diterima di perusahaan tersebut. Yah, apakah aku kecewa? Tidak, sama sekali tidak ada rasa kecewa di dalam benak ini, malahan aku bersyukur, karena aku memang tak pantas untuk bekerja di sana. *Aku masih banya kekurangan.

Sebelum mengikuti tes tersebut, aku sudah berkata kepada Tuhan yang aku percayaai:

“Tuhan, jika memang ini perusahaan yang Engkau tentukan untukku, maka biarlah aku melewati semua ini dan dapat bekerja di sana. Akan tetapi jika tidak, maka biarlah Engkau yang tahu mana yang terbaik untukku, karena aku percaya, bahwa pasti ada perusahaan yang terbaik yang telah Engkau persiapkan atau sediakan untukku, untuk aku bekerja di sana”.

Yah, mungkin kata-katanya tidak sama persis, tapi maksud dan tujuan serta makna yang terkandung di dalamnya adalah sama.

Itulah alasan kenapa aku tidak kecewa, karena aku percaya bahwa:

“Jika aku tidak diterima di tempat yang satu, maka pasti ada tempat lain yang telah disediakan untukku. Aku harus melepaskan dan melupakan yang lama agar bisa mendapatkan yang baru”.

Ya, mungkin seperti itu dan seperti itulah yang memang harus terjadi.

Setelah itu, aku langsung meninggalkan laptopku dan pergi bermain di rumah saudara sepupuku. Kebetulan, di sana ada keponakanku, jadi pergi mainlah sama ponakan. Selang beberapa jam kemudian, hpku berdering dan aku melihat ada nomor baru yang menelpon.

Setelah itu aku mencoba untuk mengangkatnya dan ternyata itulah “Perusahaan yang menelponku untuk menanyakan ketersediaanku untuk tes masuk kerja dan Interview pada hari rabu minggu depan”.

Ya, akhirnya ketika catatan ini ditulis, aku sudah punya satu janji lagi untuk hari rabu (“30 Mei 2018”), minggu depan buat tes masuk kerja dan inverview. Aku tidak tahu, alasan kenapa mereka mau menelponku, padahal sudah jelas di dalam informasi lamaranku bahwa:

“Aku tidak memiliki kelebihan, skill ku jauh dari rata-rata. Jika ada yang lain, mungkin lamaranku bisa diabaikan dan aku hanya punya kejujuran”.

Ya, itulah yang aku miliki, “Hanya Keujujuran”. Mungkin saat ini Kejujuran sangat tidak berarti jika dibandingkan dengan kemampuan/skill, tapi tidak apa-apa, karena kesempatan selalu ada dan tak akan pernah berhenti. Aku hanya perlu mempertahankan apa yang aku miliki dan tetap berpikir bahwa:

“Skill/Kemampuan dapat dipelajari, tapi karakter susah untuk diubah”.

Yah, mungkin seperti itu. Selain itu, aku juga tidak tahu, kenapa aku bisa ditelpon. Aku tidak tahu kenapa, tapi sama seperti kata temanku:

“Mungkin biar terlihat ramai yang datang melamar dan biar mereka juga bisa terlihat bekerja. Agar mereka bisa dibilang tidak sia-sia untuk digaji”.

Ya, aku tidak tahu itu benar atau tidak, tapi jika memang aku hanya ikut “Turut meramaikan saja”, aku pun juga akan senang untuk melakukannya. Ya, setidaknya untuk mencari pengalaman baru dan dapat bertemu dengan orang-orang baru. Itu saja.

Ya, tapi tidak apa-apa, aku senang karena sudah ditelpon. Inti dari catatan ini ialah:

“Kita harus melepaskan yang lama agar kita dapat menerima yang baru. Sebab jika tidak, maka kita hanya akan terpaku dan yang baru juga hanya akan menunggu sampai batas dimana semuanya akan benar-benar berakhir”.

Itulah catatan untuk hari ini, catatan yang sangat tidak penting bagi pembaca namun sedikit berarti bagi diriku sendiri. Aku tidak tahu hal lain selain daripada sebuah cerita yang dapat kubaca kembali di lain waktu yang akan datang, di waktu tepat dimana aku berdiri, tepat dimana aku telah lupa tentang sebagian dari cerita ini.

Sekian dan salam buat catatan kehidupan ini.