Menunggu Waktu Menutup Mata

Kali ini aku ingin menulis tentang menunggu waktu menutup mata. Yah, ini merupakan sebuah catatan kehidupan, catatan yang mengatakan kepadaku tentang aku, aku yang tidak aku ketahui disaat-saat tertentu dan yang aku ketahui disaat-saat tertentu yang lainnya.

Menunggu Waktu Menutup Mata – Duripoku, 10 Februari 2018

Pikirku adalah sesuatu yang tak dapat aku pahami, karena dengan pikirku, aku mudah untuk mengingat sesuatu yang terlalu penting atau sesuatu yang tidak terlalu penting. Pikirku mengingat segala sesuatu yang terkadang aku inginkan dan ketika semua telah ditulis di dalam pikirku, saat itu semua yang telah ditulis tersebut akan susah untuk dihilangkan. Yah, itulah pikirku.

Ada beberapa hal yang terkadang tidak mungkin untuk cepat dilupakan atau tak akan dilupakan oleh pikirku ialah semua yang berhubungan dengan kebahagiaan, kesedihan, kebencian, sesuatu yang terkadang tidak aku sukai dan sesuatu yang paling aku sukai. Semua itu tak akan mudah untuk dilupakan oleh pikirku. Satu yang aku ketahui atau aku yakini ialah semua yang telah masuk dalam pikirku ini, telah dituliskan dalam sebuah catatan yang aku sendiri tidak mengetahuinya, dimana catatan ini akan dibuka kembali ketika waktu menutup mataku telah tiba.

Pikirku-Pikirku, sesuatu yang terkadang membuat aku lupa siapa aku. Yah, itulah pikirku. Ketika mata ini memandang, pikirku dengan sendirinya bekerja, menceritakan semua cerita masa lalu atau masa depan kepadaku. Penting dan tidaknya bagiku itu, tidaklah terlalu penting baginya, intinya ialah pikirku dapat menceritakannya kepadaku.

Ketika pikirku sudah mulai menceritakan semuanya kepadaku, aku seolah-olah terjebak dalam cerita yang ia ceritakan kepadaku. Ia membuatku seolah-olah tak mau untuk maju dan memaksaku untuk mundur atau tetap terdiam pada tempat dimana aku berdiri, padahal aku tahu bahwa ia pun juga tahu bahwa waktu akan selalu memaksa kita untuk maju, tidak ada kesempatan untuk terdiam ataupun mencoba untuk mundur kebelakang. Yah, karena itu tak mungkin.

Ketika pikirku sudah mulai mencoba untuk menjebakku, saat itulah aku mencoba untuk menutup mataku 2 detik dan membukannya kembali 2 detik, setelah itu aku melakukannya selama beberapa kali. Setelah aku melakukan hal tersebut, aku mencoba untuk menutupnya dan menahan agar mataku dapat tertutup lebih lama, yah, biasanya aku menutupnya sampai 30 detik.

Ketika mataku sementara tertutup dalam 30 detik terakhir, saat itulah aku seolah-olah mengenal siapa diriku. Aku tak peduli dengan sesuatu yang telah diceritakan kepada pikirku, entah itu kebahagiaan yang paling bahagia sekalipun, kesedihan yang palih sedih sekalipun, kebencian yang paling membuat aku merasa benci akan sesuatu atau semua tentang itu. Yah, ketika aku menutup mataku pada 30 detik terakhir, saat itulah aku tahu siapa aku, aku mengenalnya dan aku lupa segalanya karena aku tahu siapa aku.

Ketika aku telah ingat tentang siapa diriku sebenarnya, saat itulah terkadang aku seolah-olah ingin bersumpah atau menulis sumpahku bahwa aku tak menginginkan ini, aku tak menginginkan itu, aku tak menginginkan segalanya dimuka bumi ini, segalanya yang tak memiliki arti apa-apa bagiku. Aku sudah memiliki apa yang ada padaku dan itulah yang terbaik saat ini, saat yang akan datang sampai selama-lamanya.

Yah, ketika aku mengingat siapa aku, saat itulah keinginan dalam tubuhku mati. Aku tak punya keinginan apa-apa, karena aku rasa bahwa aku telah memiliki segalanya. Segala sesuatu yang tak akan pernah dimiliki oleh orang lain yang telah ada pada diriku sendiri.

Saat itulah aku merasakan bahwa aku benar-benar besar, masalah atau keinginanku sangat kecil bahkan tidak berpengaruh apa-apa terhadapku. Sungguh, inilah catatan kebenaranku, bahwa ketika kita tahu siapa diri kita sebenarnya, saat itulah kita akan merasa bahwa kita lebih besar dari masalah atau keinginan atau semua tentang itu yang datang kepada kita dan memaksa kita untuk menjadi hamba atau budaknya.

Yah, sehingga kita dapat mengontrolnya, bahkah bukan hanya sekedar mengontrolnya, akan tetapi kita dapat melupakannya, karena memang mereka tak memiliki arti apa-apa, selain apa yang ada pada diri kita sendiri.

Catatan ini mengingatkanku akan siapa diriku dan apa yang benar-benar aku inginkan dalam hidupku. Ketika aku aku telah mengetahui siapa diriku pada saat mataku tertutup, saat itulah aku tahu apa keinginan terbesarku dalam kehidupan yang aku lalui ini, yang katanya keinginan tersebut akan membuatku bahagia di dunia ini, ternyata bukanlah sesuatu yang besar, karena sungguh, aku sama sekali tidak menginginkannya, ketika aku tahu siapa aku.

Yah, aku tahu siapa aku dan saat itulah aku merasa bahwa aku sepertinya menanti waktu menutup mataku.

Sekian dan salam buat catatan kehidupan ini.