Manusia Setengah Dewa

Kali ini aku ingin menulis tentang manusia setengah dewa, ini adalah catatan kehidupan untuk hari ini, dimana menurut aku ini adalah catatan yang perlu untuk dicatat saat ini, sebagai bagian dari kehidupan, dimana “manusia setengah dewa” ini hanya sebagai khiasan dan sebagai sebuah perwakilan untuk seorang manusia yang selalu merasa benar dan bisa disamakan seperti dewa, karena hanya bisa mencari kesalahan orang lain seolah-olah dia tak pernah bersalah.

Manusia Setengah Dewa – Jakarta, 2 September 2017

Sebenarnya tulisan ini tidak akan pernah ada, akan tetapi tadi aku mendapatkan sebuah status tentang seorang manusia setengah dewa yang menjelekkan Pemerintah yang sekarang ini. Sungguh, aku tidak membela siapa-siapa, aku hanya kasihan, “Kok ada yah, manusia seperti ini?”.

Dibawah ini adalah Screenshot atau Gambar dari status tersebut

Dari status diatas, dipublikasikan oleh: Nama penulis status dengan link: Link status, Status dibuat pada tanggal 2 September 2017 dan Diakses kembali pada tanggal 3 September 2017.

Dari status di atas, diketahui bahwa gambar yang ditampilkan pada status tersebut menyalahkan pemerintah, karena katanya telah melanggar Tap Mprs RI No.XXV/MPRS/1996 tentang komunisme, dan katanya yang melanggar harus dipidana 15 Tahun Penjara.

Jujur, setelah membaca tulisan pada gambar ini dan tulisan yang disertakan diatas dari gambar ini, yang terpikirkan oleh ku ialah:

Orang ini adalah manusia setengah dewa, ia adalah orang yang tidak bercela, ia adalah orang yang bersih, karena ia bisa melihat kesalahan yang ada pada orang lain dan ia sendiri tidak memiliki kesalahan, makanya ia tidak memperhatikannya dan hanya menggunakan waktunya untuk mencari kesalahan yang ada pada orang lain.

Sebelum masuk lebih jauh, bunyi dari TAP MPRS No. XXV/1966 ialah:

TAP MPRS No. XXV/1966

“Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara Republik Indonesia Nomor XXV/MPRS/1966 tentang Pembubaran Partai Komunis Indonesia, Pernyataan Sebagai Organisasi Terlarang di Seluruh Wilayah Negara Republik Indonesia bagi Partai Komunis Indonesia dan Larangan Setiap Kegiatan untuk Menyebarkan atau Mengembangkan Faham atau Ajaran Komunis/Marxisme-Leninisme dinyatakan tetap berlaku dengan ketentuan seluruh ketentuan dalam Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara Republik Indonesia Nomor XXV/MPRS/1966 ini, kedepan diberlakukan dengan berkeadilan dan menghormati hukum, prinsip demokrasi dan hak asasi manusia”.

Yang jadi pertanyaan sekarang,

Siapa yang menyebarkan atau mengembangkan faham atau ajaran Komunis/Marxisme-Leninisme?

Ini kan kerja sama buat mewujudkan cita-cita negara kita yang termuat dalam Pembukaan UUD 1945 “Untuk memajukan kesejahteraan umum”, membuat fasilitas yang ada menjadi bagus, supaya bisa digunakan dengan layak atau supaya bisa jadi negara maju lah(“Istilah kasarnya”).

Nanti kalau tidak diperbaiki fasilitas yang ada atau tidak ada perubahan, otak-2 sempit seperti ini pasti bilang “pemerintah tidak bisa mencapai visi dan misi, pemerintah hanya janji doang”. Giliran udah mau diperbaiki dengan adanya kerja sama, dibilang sudah melanggar hukum yang ada.

Ini orang maunya apa sih?

Masalah keluarga sudah beres yah? makanan udah cukup yah? kalau belum, kerja yang benar, urus keluarga dulu, jangan urus pemerintah, karena semua punya pekerjaan masing-masing, kalau mau ngurus pemerintah, masuk ke pemerintahan, pada saat mau pemilu, daftar jadi presiden, biar otak bisa berwawasan luas, jangan terlalu sempit gitu.

Heran saya, masalah pemerintah di urus-urusin, urus yang benar mah g’ apa, ini g’ salah juga di maksain cari kesalahan, seolah-olah dia yang paling benar. Urus dulu tuh keluarga yang bener, Daripada entar kalau g’ ngurusin keluarga, terus kenapa-napa, nanti dibilang “Pemerintah tidak memperhatikan rakyat kecil”, padahal rakyatnya aja yang badung, yang hanya mau ngurusin pemerintah dengan mencari-cari cela untuk menyalahkan pemerintah.

Heran saya sama manusia setengah dewa ini.

Gimana mau majunya yah Negara ini? kalau orang-orang yang hanya bisa mencari kesalahan orang lain seperti ini masih ada di Bumi Pertiwi?

Kata Pak Ebiet G. Ade, “Coba Tanyakan pada rumput yang bergoyang”.

Mungkin itulah catatan hari ini, catatan kehidupan dari penulis. Jujur, sebagai rakyat biasa, saya sedikit kesal dengan sebagian orang yang hanya bisa mencari kesalahan orang lain tanpa memperhatikan kesalahannya sendiri. Yah, walaupun kesal, tulis aja disini, aku tidak bisa melakukan apa-2, aku hanya manusia biasa.

Semoga suatu saat orang yang seperti ini bisa berubah, setidaknya jangan suka mencari kesalahan orang lain lah. Itu saja sudah cukup. Soalnya malu sama umur, karena seharusnya semakin tua itu pemikirannya harusnya tambah luas, bukan makin sempit.

Sekian dan salam buat catatan ini.