Catatan Peringatan – Catatan Kehidupan

Kali ini aku ingin menulis tentang sebuah catatan peringatan yang merupakan bagian dari catatan kehidupanku. Sesuatu yang pernah terlewati dan sesuatu yang perlu untuk ditulis sebagai bagian dari kehidupan yang sudah berlalu tapi masih ada dan selalu ada dalam kehidupan yang singkat ini.

Catatan Peringatan – Duripoku, 19 Januari 2018

Kemarin (“Duripoku, 18 Januari 2017”) adalah jadwal panen sawit di kapling orang tua ku, jadi kami bersiap untuk pergi panen. Pada waktu panen saat ini, kami saling bantu dengan seseorang yang sering datang berkunjung ke rumah orang tuaku. Yah, kami mau saling bantu dalam memanen sawit.

Singkat cerita aku pergi ke rumahnya dan menjemputnya. Setelah sampai di depan rumahnya, aku memarkir motor tepat di depan jembatan dari rumah orang tersebut. Ketika kakiku telah melangkah beberapa meter dari jalan hingga ke depan rumah dari orang tersebut, aku disambut dengan nada suara yang tinggi dan kata-kata kasar serta bahasa kotor terucap dari bibir ibu sang pemilik rumah.

Bukan aku yang dimarahi, yah, tentu saja bukan aku, tapi yang dimarahi ialah Ibu mertua dari sang Ibu pemilik rumah ini.

Alasan dimarahinya Ibu meruanya yang sudah tidak dapat melihat dan sudah terlihat tua ini ialah karena ia BAB (“Buang Air Besar”) di pelastik dan buang tepat didepan rumah yang mereka tinggali. Yah, aku melihatĀ  kotoran itu, aku hanya bisa menahan napas dan pura-pura tidak tahu (“Kebiasaan untuk berpura-pura”).

Saking busuknya, aku langsung masuk tanpa harus meminta untuk disuruh masuk. Yah, kemudian sang ibu pemilik rumah tersebut ngoceh dan terus mengoceh, marah dan teriak tidak jelas kepada Ibu mertuanya dengan nada yang sangat-sangat tidak sopan. Aku hanya bisa mendengar, yah, aku hanya bisa mendengar, walaupun dalam hati ini mengatakan bahwa itu seharusnya tak pantas ia lakukan kepada Ibu mertuanya.

Setelah itu, sang ibu pemilik rumah ini mengatakan kepadaku bahwa aku harus menunggu sebentar, karena ia harus pergi untuk memanggil suaminya yang akan kujemput saat ini yang katanya lagi berada dibelakang yang sementara memangkas sawit (“Istilah disini ialah Proning”).

Setelah suaminya datang, istrinya memanas-manasi suaminya tentang kelakukan Ibu mertua dari sang istri atau Ibu kandung dari sang suami.

Sang suami pun marah, aku perlahan keluar dan menunggunya di bawah pohon nangka dan mendengar semua ocehan atau kata-kata yang keluar dari kedua orang ini kepada Ibu mereka. Yah, aku berusaha terdiam dan melihat semua yang terjadi, sesekali aku hanya menggelengkan kepalaku karena kata yang dikeluarkan oleh mereka.

Sang suami mengoceh, si Ibu mengeluarkan kata pembelaan terhadap dirinya, sang suami membentak dan berkata:

“Diam, kau sudah salah diomongin itu dengar”.

Kata yang terucap mungkin tidak sama, tapi maknanya sama dan seperti itulah yang terjadi, sebuah kata bentakan sang anak kepada sang ibu oleh karena ocehan sang istri. Aku tidak tahu apakah itu perlu dilakukan atau tidak, tapi dari hati nuraniku berkata bahwa itu tidak harus dilakukan, mengingat usia sang ibu yang sudah lanjut usia dan mata yang sudah tidak dapat melihat dengan jelas.

Singkat cerita semua tidak berlalu begitu saja, satu kata kasar yang sempat kudengar dari cerita ini ialah:

“Lama-lama, kepalanya saya titik pake hamar ko dia mati”.

Yah, itulah kata dari sang anak yang dikirimkan kepada sang ibu. Sungguh, aku tidak tahu harus berbuat apa selain terdiam dan mendengar semuanya dan menunggu semuanya redah dengan sendirinya.

Setelah cerita ini, kamipun pergi, setelah sang suami membantu sang ibu untuk menutup kotorannya dengan pasir dan melakukan hal yang perlu untuk dilakukan. Yah, kami berangkat.

Dari cerita ini aku jadi teringat dengan satu pesan dari Tuhan yang aku percayaai kepada umat manusia ialah:

“Tariklah pelajaran dari perumpaan tentang pohon ara. Apabila ranting-rantingnya melembuat dan mulai bertunas, kamu tahu bahwa musim panas sudah dekat. Demikan juga, jika kamu lihat hal-hal itu terjadi, ketahuilah bahwa waktunya sudah dekat”.

Yah, itulah yang dikatakan oleh Tuhan yang aku percayaai.

“Kerajaan Allah sudah dekat”.

Sekian dan salam buat catatan peringatan dari catatan kehidupan ini.